Saya memikirkan sekali - kali tentang beberapa hal , secara acak, kali ini tentang depresi.
Sekilas tentang apa yang saya pikirkan depresi dalam tulisan singkat, jelek dan tidak berarti ini.
Depresi
Dimulai dengan penundaan bertubi - tubi dari hal kecil yang harusnya dapat diselesaikan hari ini.
Menunda karna rasa takut dan kecemasan kecil yang menang secara terus menerus.
Berakhir dengan kesedihan, merasa tidak berguna, rendah diri dan penurunan nilai diri sendiri.
Dibalut dengan ekspetasi yang terlalu berlebihan, khayalan yang luar biasa akan hal - hal besar yang bisa dilakukan tapi tidak akan pernah terjadi.
Karena di siang hari hanya dapat tergeletak meringkuk di atas tempat tidur sebagai bentuk pelarian.
Semakin lama menunda - nunda, semakin kalah atas rasa takut, semakin kecil nilai dari diri sendiri.
Pada akhirnya pikiran untuk menyerah datang, awalnya tipis, mengalung di sekitar leher.
Dada terasa semakin sesak, saat kenyataan datang menghantam.
Waktu semakin sedikit, kesempatan semakin kecil, daya juang termakan rasa takut yang menang terus menerus.
Sadar akan kenyataan tapi memilih untuk menyangkal dengan ilusi bahwa "Masih ada waktu," "Masih ada kesempatan yang lain," dan "Aku baik - baik saja."
Ilusi terus bekerja sampai waktu habis, kesempatan hilang, daya juang tak bersisa.
Dada terasa semakin sesak, yang mengalung tipis merajut terus, semakin tebal.
Takut, rendah diri, hilang harapan, menjadi kelambu yang menutup mata pikiran terhadap kesempatan yang datang dan pergi silih berganti.
Dan yang semula mengalung tipis, terus merajut semakin tebal, semakin nyata.
Tapi kini dada tidak terasa sesak lagi, hampa tanpa perasaan.
Mati, dimakan dari dalam.
Pada akhirnya yang nyata adalah tali tambang mengalung di leher dan daya juang untuk kabur dari kenyataan.
Untuk terakhir kalinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar