Senin, 04 Januari 2016

Random piece of mind in 2015

Lebih susah untuk maju dari kemunduran, daripada memulai dari 0
Jangan meminta maaf untuk hal - hal yang sebenarnya lu gak pernah merasa bersalah. Maaf itu kata mahal.
Melakukan sesuatu tanpa di pikir lebih mudah
Melakukan sesuatu untuk menyenangkan seseorang lebih mudah.

Yang susah melakukan sesuatu setelah di pikir dulu.
Melakukan sesuatu berdasarkan keputusan sendiri.
Membuat masalah boleh tapi jangan membebankan orang lain

Kalo tidak cinta, lupakan saja
Orang yang menikah dengan spekulasi tidak akan pernah mendapatkan orang yang benar - benar mencintai.

Pekerjaan dengan ujung berupa moral dan etika, tidak bisa melanggar moral dan etika itu sendiri.
Wajah menjadi faktor utama. ya
Pintar berbicara menjadi faktor utama. Ya.

Agama tidak membuat buruk seseorang.
Manusia yang beragama yang membuat buruk seseorang.
Ketika sifat duniawi manusia masuk. di situ sumber segala masalah.

Manusia harus bahagia dan sengsara di dalam hidupnya.
Bukankah itu yang di ajarkan arti kehidupan.
Setiap hari sedih ada hari bahagia di depan, kebahagian selalu menjadi penyambung di dalam kehidupan.
Terus berjalan

Berwajah seram tidak akan menyelesaikan masalah.
Berwajah seram hanya akan menghindarkan orang - orang yang membawa masalah
Dan beberapa orang yang tidak bermasalah tentu saja.
Tersenyum menyelesaikan masalah.
Menyelesaikan masalah dari beberapa perspektif sih.
Solusi menyelesaikan masalah.

Sukses sesuai passion menyenangkan.
Tapi tidak perlu passion untuk menjadi sukses.
Kerja keras yang diakui oleh banyak orang yang membuat seseorang sukses.
Terlepas dari Passion.

indonesia negara berkebangsaan.
Tapi ribut terus secara agama dan ras.
Kesenjangan sosial regional semakin tinggi.

Minggu, 03 Januari 2016

Theory of kindness

Gua selalu percaya, berbuat baik sekecil apa pun kepada orang lain itu berguna.
Baik kepada orang asing ataupun kepada orang yang kita kenal.

Yang lebih "susah" adalah membantu orang yang kita kenal. Terkadang tidak masalah sama sekali.
Terkadang membutuhkan banyak waktu, menghilangkan kesempatan dan yang paling parah beberapa orang berpikir sudah seharusnya atau selayaknya mereka mendapatkan pertolongan dan sudah selayaknya orang tersebut berkorban untuk dia. "Taken for Granted.". Terkadang kita ketemu dengan orang yang seperti ini, pasti. Beberapa orang berpikir teman adalah teman berkorban sedikit tidak masalah. Berkorban, membantu, dan tetap terus bersama meskipun sifat dan perlakuannya adalah tanda dari teman sejati. Menerima kekurangan teman adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dilakukan teman baik. Di satu sisi tidak sedikit yang berkata juga, teman itu adalah yang berguna secara fisik dan mental jangka panjang. Beberapa teman tidak banyak bicara tapi saat bertemu dia masih seorang teman. Teman berguna untuk perkembangan mental dan fisik kamu. dan tidak jarang menentukan kesuksesan dan pembangkit di kala susah adalah seorang teman. Karena itu pilihlah temanmu dengan baik. Aneh bukan kontradiksi di atas, padahal kita diajarkan waktu kecil untuk tidak pilih - pilih teman.

Yang lebih "sulit" adalah memberikan materi pada orang asing. Kita tidak tahu apa orang tersebut jujur dengan tujuannya, apakah ini hanya sebuah modus operandi, apakah ini penipuan, tidak ada yang tahu selain dia dan Tuhan pada saat pertolongan diminta. Orang yang baik tentu saja akan menolong tanpa sungkan dan segan. Tanpa ragu. Karena yakin di dalam pikirannya setidaknya ini adalah perbuatan yang benar dia tidak bersalah bagaimana pun juga. Tetapi di mata orang lain ini adalah pembiaran dan dukungan yang secara tidak langsung, Orang yang menipu akan berpikir "kalo berhasil sekali, kenapa tidak mungkin berhasil kesekian kalinya?" "Ignorance of one people thinking what he doing with good intent whatever the result is, chance he doomed all other people around him." Kita diajarkan waktu kecil dengan cerita - cerita dongeng dan buku untuk berbuat baik kepada siapa saja, tolong - menolong. Begitu dewasa kita sadar baik saja tidak cukup, tapi mesti bijaksana. Tapi sayangnya saya sadar, menjadi bijaksana sulit. Tidak semua orang dapat memilikinya. Sehingga kebanyakan orang memilih cara yang lebih mudah, mengangkat tangan mereka untuk orang asing, menjaga jarak. Dengan pikiran "Oh, dunia ini memang kejam terimalah." atau "Suatu saat nanti atau sebentar lagi akan ada orang lain yang menolongnya tenang saja."

"Susah" dan "Sulit". Bagi beberapa orang salah satu dari antara kedua hal di atas tidak masalah. Heck! maybe for some, thinking they can handle both.it's no problemo.

Mungkin untuk orang yang yang merasa "susah" mereka pernah mengalami hal yang buruk berhubungan dengan temannya, merasa perlakuan yang tidak sesuai, merasa diperlakukan tidak adil, merasa di tusuk dari belakang.
Mungkin bagi yang tidak masalah dengan yang namanya "susah" lebih kuat dari orang yang merasa "susah". teman berkorban satu sama lainnya tanpa mengharapkan pamrih adalah sesuatu yang wajar tidak masalah. Bersyukurlah untuk orang - orang yang mempunyai prinsip seperti ini.
Jadi yang benar yang mana? gak apa - apa. Dua - duanya tidak salah. Satu menyayangi diri sendiri, satu hidup berkorban. Pertanyaannya "Pada akhirnya apakah keputusan yang kamu ambil setimpal?" "ya" adalah.... mungkin jawaban yang di harapkan semua orang.

Yang merasa "sulit" bagaimana? mungkin mereka gak punya kebebasan secara materiil, sepeser pun krusial bagi mereka, mungkin yang lebih sedih lagi mereka gak percaya sama lingkungan masyarakat sosial mereka. karena itu terasa "sulit". Mungkin dari apa yang mereka cerna dari pemberitaan media atau yang mereka cerna dari cerita orang lain. Siapa yang tahu bagaimana proses orang mencerna suatu berita?
Yang merasa "sulit" tidak masalah mereka lebih kuat secara materiil dan mental, atau salah satunya, mungkin.
Yang benar yang mana? ini sulit.  Sulit untuk gua tentukan. Kenapa? saya berpikir toleransinya berbeda dan juga karena kondisi masyarakat sosial di sekitar mereka. Toleransi kita kepada keluarga, teman dan orang asing berbeda dan seberapa tinggi toleransi untuk yang ketiga gua pikir juga dipengaruhi secara besar oleh Bagaimana orang tersebut berinteraksi dan di perlakukan oleh masyarakat sosial di sekitar mereka, bagaimana dia menerimanya,  mempengaruhi bagaimana secara besar dia memperlakukan masyarakat di sekitar mereka.

Yang merasa  tidak mempunyai masalah dengan sulit dan susah coba dipikir dan dirasakan lagi. 
Apakah ini bukan pembohongan diri sendiri? agar merasa diri anda lebih baik dari yang lain? 
Apakah anda tidak terlalu naif?

---

Terlepas dari apa yang gua tulis di atas gua punya teori seperti ini
Berbuat baik itu mesti tulus, spontan dan tanpa pamrih.
Tulus agar perasaan atau hati tidak merasa susah atau sulit.
Spontan agar berbuat baik bukan menjadi sesuatu yang asing di dalam hidup kita.
Tanpa pamrih, percayalah pamrih bukan akhir yang dikejar ataupun tujuan dari berbuat baik.

Berbuat baik itu seperti bumerang. Anda lempar lurus kedepan kadang gak kembali tapi kalau kembali, kembalinya terkadang dari samping kiri, kanan, yang paling tidak di sangka justru dari belakang. 
Belum pernah lempar bumerang? coba deh. Kebaikan itu seperti itu.
Kebaikan itu berputar jauh seperti arus samudra karena itu dilakukan terus biar panjang jauh mengalir, berbuat baik secara kecil juga gak masalah.

Berbuat baik mungkin dapat menyelamatkan seseorang dengan tidak di sangka. 
Dengan berbuat baik, menolong orang, juga jalan untuk menolong diri sendiri.
Merasa tersesat coba menolong orang lain, mungkin mata jadi lebih terbuka dan mungkin hati lebih bersyukur.




Senin, 23 November 2015

Killer's Kill

K: You don't know, what will happend to you? don't you?
T: Oh no, what do I do?
K: Believe me you won't talk like that in front of killer like me.
T: What coincident! I'm always killer's kill
K: Then, why you still alive?
T: Took you long enoughs!

Jumat, 06 November 2015

Depresi

Saya memikirkan sekali - kali tentang beberapa hal , secara acak, kali ini tentang depresi.
Sekilas tentang apa yang saya pikirkan depresi dalam tulisan singkat, jelek dan tidak berarti ini.

Depresi

Dimulai dengan penundaan bertubi - tubi dari hal kecil yang harusnya dapat diselesaikan hari ini.
Menunda karna rasa takut dan kecemasan kecil yang menang secara terus menerus.
Berakhir dengan kesedihan, merasa tidak berguna, rendah diri dan penurunan nilai diri sendiri.
Dibalut dengan ekspetasi yang terlalu berlebihan, khayalan yang luar biasa akan hal - hal besar yang bisa dilakukan tapi tidak akan pernah terjadi.
Karena di siang hari hanya dapat tergeletak meringkuk di atas tempat tidur sebagai bentuk pelarian.
Semakin lama menunda - nunda, semakin kalah atas rasa takut, semakin kecil nilai dari diri sendiri.
Pada akhirnya pikiran untuk menyerah datang, awalnya tipis, mengalung di sekitar leher.
Dada terasa semakin sesak, saat kenyataan datang menghantam.
Waktu semakin sedikit, kesempatan semakin kecil, daya juang termakan rasa takut yang menang terus menerus.
Sadar akan kenyataan tapi memilih untuk menyangkal dengan ilusi bahwa  "Masih ada waktu," "Masih ada kesempatan yang lain," dan "Aku baik - baik saja."
Ilusi terus bekerja sampai waktu habis, kesempatan hilang, daya juang tak bersisa.
Dada terasa semakin sesak, yang mengalung tipis merajut terus, semakin tebal.
Takut, rendah diri, hilang harapan, menjadi kelambu yang menutup mata pikiran terhadap kesempatan yang datang dan pergi silih berganti.
Dan yang semula mengalung tipis, terus merajut semakin tebal, semakin nyata.
Tapi kini dada tidak terasa sesak lagi, hampa tanpa perasaan.
Mati, dimakan dari dalam.
Pada akhirnya yang nyata adalah tali tambang mengalung di leher dan daya juang untuk kabur dari kenyataan.
Untuk terakhir kalinya.

Rabu, 01 April 2015

My Rant

Bumi terdiri dari air tanah api udara dan kehidupan
Menurut orang yang mengacu pada kitab suci
Tuhan menciptakan semuanya dalam waktu 6 hari dan hari ke 7 tuhan beristirahat
Menurut kitab suci juga di tulis setan dan hantu itu ada
Tapi entah kenapa manusia susah untuk percaya setan dan hantu itu ada
Bahkan daripada percaya mereka menggunakan atribut - atribut keagamaan untuk di jadikan sumber penghasilan
Bahkan mengkomersialkan setan dan hantu.
Well tidak bisa di bilang. Tidak bisa di pungkiri.
Manusia begitu. Saya juga manusia.
Saya juga begitu. Tapi apakah manusia harus seperti itu?
Manusia menurut saya mempunyai kemungkinan tidak terbatas dan terbatas juga di saat yang bersamaan
Sama seperti ada manusia yang baik dan yang buruk
Sama seperti ada gelap dan terang
Bahagia dan sengsara
Ya hidup manusia begitu.
Kalo bisa di sederhanakan manusia itu hidupnya Bahagia dan Sengsara.
Manusia itu menjaga dan menghancurkan pada saat bersamaan.
Begitulah
so take a side with your own way.


Selasa, 31 Maret 2015

.

Jealousy turn into hate
Hateful heart lead into hateful act.
Hateful act turn into tragedy.

Senin, 02 Maret 2015

Aku Ceritakan Kepadamu Kisah Cinta Sedihku

Judul di atas balasan untuk giveaway 

 yang akan gua ikuti dari @aprieJ
Ini cerita sedih yang muncul mendadak yang gua tulis selama 30 menit.
Spontan!
jadi maaf kalau ada kurang pada penulisan dan pemilihan katanya.
twitter penulis : @AdrianPangestu
selamat menikmati. Semoga sesuai dengan selera anda yang membaca.

Tempurung
              Matahari turun untuk istirahat sinarnya berlahan – lahan turun meninggalkan potongan – potongan cahaya terpancar dari atas gunung, di pondokan aku duduk setiap harimenikmatinya dengan kopi radio kalo beruntung ada pisang goreng, entah sudah berapa lama ini menjadi pemandangan yang aku lihat. Sudah tidak ingat lagi kapan dimulainya, rasanya seumur hidupku akan melihat pemandangan yang sama entah sampai kapan badan ini hancur dan sakit.  
Aku bisa mengatakan itu karena aku seorang petani, membajak ladang hanya pekerjaan yang bisa aku lakukan setelahnya aku belajar hal – hal yang lainnya yang berhubungan dengan ladang. Aku mengerti hanya ini yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan seperti aku. Turun dari bapak ke anak. Lahan yang semakin lama semakin kecil. Kantong yang semakin lama semakin miskin tidak sebanding dengan harga. 
Untuk bertahan kita harus mengambil hati bos besar di desa untuk membantu kita. Sayangnya beliau bukan orang yang murah hati. Ketika tidak ada untung yang bisa diandalkan hanya ingatan beliau tentang kita. Apakah kita baik atau tidak? Apakah kita bisa ditolong atau tidak? 
Kebetulan aku adalah salah satu orang favoritnya. Orang yang selalu datang di saat di butuhkan bahkan membiarkan bapak bekerja sendiri pun harus aku lakukan demi menjaga hubungan baik membantu bos besar agar bisnisnya dan hatinya bisa bertahan di desa ini. Aku tersenyum tentang apa saja yang sudah aku lakukan untuk bos besar.  
Dari menjadi teman baik anaknya, membantu bos membuat acara besar di desa untuk membuat warga lainnya menerima beliau, mencari batu akik spesial di hutan, sampai menolong bos yang dikejar kerbau, kalau tidak kutolong sudah habis dia diseruduk kerbau. Ingatan itu membuatku tersenyum sedikit.
                “Bang senyum – senyum sendiri saja nanti disangka gila loh.” 
Aku terkejut dan terbangun dari lamunanku melihat Nina sudah berdiri di depanku menghalangi sinar matahari senja yang sudah mulai redup. Alangkah eloknya pemandangan yang aku lihat, Paras cantik Nina tertutup sedikit bayangan dan hanya pinggirnya yang bercahaya menembus juntaian rambutnya yang terlepas dari ikatan di belakang kepalanya yang kecil. Tubuhnya yang kurus langsing tak bisa aku bilang ada laki – laki yang bisa menolak tubuh itu. Terkadang kalo sangat beruntung Nina akan datang mampir sebentar. Ini pemandangan lain favoritku, yang satu membuat ku tenang yang ini membuatku senang. 
              “Ah bisa aja dek. Kalo abang gila kasian Pak Bahur. Gak ada lagi orang andalannya di desa ini.”
                “Ah abang bisa aja. Kenapa sih senyum – senyum sendiri?”
                “Aku tersenyum liat kau yang manis dek.”
                “Ih.” Nina memukul manja lenganku.
            “Lah abang salah apa kok dipukul!” Aku bermain – main berpura – pura kaget dipukul Nina.
                “Nina kan baru datang abang senyumnya dari tadi.”
           “Ya abang hanya teringat tadi pas Pak Bahur lari – lari dikejar sama kerbau.”
Nina tertawa mendengar aku mengungkit hal itu lagi di desa ini hanya beberapa hal yang bisa ditertawakan salah satunya yah kejadian si bos dikejar kerbau.
Kita biasanya hanya berbicara untuk beberapa menit setelah itu Nina pulang karena hari sudah gelap. Matahari sudah mulai hanya terlihat ujungnya saja kalau sudah begini Nina pasti pamit pulang.
                “Abang Nina pulang dulu yah.”
Nina yang dari duduk bersimpuh sudah dalam posisi setengah berdiri bersandar berat pada kedua lututnya
Kali ini tidak ada jawaban “Iya hati – hati ya Nina.” “Makasih ya udah nemeni abang ngobrol Nina.” “Abang antar pulang yah Nina.” Aku sudah tak tahan aku membalasnya dengan sebuah pelukan yang kusambung dengan ciuman di bibir Nina aku bisa merasakan tubuh Nina menegang kaget karena kucium. Aku juga tidak mengerti tentang apa yang aku lakukan aku kaget bukan kepalang dengan tindakanku.
Masih dalam pelukanku Nina yang masih kaget sama kagetnya denganku terdiam sebentar bibirnya terbuka membentuk celah matanya terbelalak kaget. Aku ingin menciumnya lagi tapi kali ini bibirku kugunakan untuk hal lain aku mencoba untuk bicara.
                “Nina, abang sudah lama sayang sama adek. Mungkin abang bukan lelaki yang paling baik, mungkin kalau kamu menolak abang kamu masih bisa menemukan lelaki yang lebih baik lagi. Mungkin kalau kamu menerima abang kamu akan menderita dan hanya menemukan kesusahan. Hidup abang cuma di desa ini. Tidak mewah, tidak megah. Meskipun begitu abang mau dek Nina mempertimbangkan untuk hidup berdua dengan abang. Mau gak, dek Nina menikah dengan abang?”
Dengan suara mantap aku mengatakannya dengan lancar tidak terputus. Nina terdiam mendorongku pelan menjauh. Nina kembali terduduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkram kain yang membalut kakinya dari pinggang kebawah. Aku ketakutan setengah mati dia akan menolakku.
Sejenak dia  memandangku dengan wajah ragu, takut, bimbang selama beberapa saat. Aku tidak bisa membaca apa  artinya tatapannya. Detik berikutnya Nina sudah meloncat turun dari saung memakai sandalnya dan buru – buru pergi.
Aku berteriak memanggil namanya  tapi Nina tidak berbalik sedikit pun mengacuhkan panggilanku kepadanya.
Aku tercenung beberapa saat melihat cahaya matahari senja hilang sekaligus dengan cintaku. Aku merasa hampa pada saat itu. Aku terdiam untuk saat yang lama sampai ternyata hari sudah gelap. Aku pulang berbesih diri  lalu istirahat seperti biasa.
Di dalam gelap malam aku terbaring di tempat tidur beranyam bambu dengan kain sebagai alas dan sebuah bantal kapuk yang sudah lama dan menghitam. Perlahan aku mulai merasa sakit. Rasanya menusuk dada aku merasa sesak tidak bisa bernapas, leherku tercekat tidak ada suara yang keluar. Air mata mulai mengalir dari pinggir mataku turun ketelinga. Aku menangis sendiri dalam gelap, menjerit sendiri tanpa suara, awalnya aku merasa sedih karena ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan aku menangis selama beberapa lama aku tidak tahu. Setelah berikutnya aku tenang lalu sekali lagi aku  merasakan lagi gelombang kesedihan yang sedikit berbeda dari sebelumnya aku takut kehilangan momen – momen menyenangkan setelah selesai bekerja di sore hari bersama Nina. Ini yang terakhir tidak ada lagi, Aku kembali merasakan air mataku kembali mengalir rasa sakit di dada di gantikan amarah karena ketakutan yang aku rasakan, aku tidak menjerit,  kali ini aku terisak seperti anak kecil.
 Ketika aku tersadar ternyata hari sudah pagi, aku harus bersiap – siap membantu bapak di ladang, aku terlelap kecapaian menangis. Hati ku risau, resah, gelisah  tidak pernah tenang mulai dari waktu aku bangun sampai pada saat aku bekerja. Aku ingin pikiran burukku hilang. Aku membohongi diri sendiri untuk mengusirnya. Nina pasti akan datang sore ini.
Sore hari pun datang disaat sudah waktunya selesai bekerja aku segera bergegas untuk duduk di saung seperti biasa, jantungku berdebar kencang harapanku tinggi melonjak ke angkasa berharap Nina akan datang menghampiriku seperti biasa. Tidak pernah aku berharap, takut, dan berekspetasi sekencang  ini. Ekstasi baru yang pertama kali aku rasakan seumur hidupku.
Aku duduk dengan tenang menatapi cahaya matahari turun perlahan ditelan bukit, aku terlihat tenang menatapinya setiap orang yang lewat menyapaku aku balas menyapanya hanya saja mataku selalu menatap matahari, aku terlihat tenang tapi di dalam aku gelisah, cemas, takut, berharap. Matahari sudah setengah tenggelam, harapanku masih melambung tinggi. Setiap detik aku melihat matahari turun dengan lambat di makan bukit aku semakin cemas, semakin pupus harapan, tanganku bergetar. Menit berikutnya matahari sudah tinggal seujung, tanganku saling bertautan, bergetar hebat, aku berdoa kepada Tuhan agar Dia sudi mengatur Nina bisa datang ketempat ini sekarang juga. Matahari sudah turun tenggelam dimakan bukit aku sekali lagi menangis, tersungkur meraung di lantai anyaman saung, menyesali perbuatanku pada momen ini satu hari yang lalu. Realita menghantamku kencang, Nina gak akan datang, lebih dari pada ditolak hubungan kita telah hancur hilang di hapus oleh bibir kita yang bersentuhan. Saat aku mengecupnya.