K: You don't know, what will happend to you? don't you?
T: Oh no, what do I do?
K: Believe me you won't talk like that in front of killer like me.
T: What coincident! I'm always killer's kill
K: Then, why you still alive?
T: Took you long enoughs!
Senin, 23 November 2015
Jumat, 06 November 2015
Depresi
Saya memikirkan sekali - kali tentang beberapa hal , secara acak, kali ini tentang depresi.
Sekilas tentang apa yang saya pikirkan depresi dalam tulisan singkat, jelek dan tidak berarti ini.
Depresi
Dimulai dengan penundaan bertubi - tubi dari hal kecil yang harusnya dapat diselesaikan hari ini.
Menunda karna rasa takut dan kecemasan kecil yang menang secara terus menerus.
Berakhir dengan kesedihan, merasa tidak berguna, rendah diri dan penurunan nilai diri sendiri.
Dibalut dengan ekspetasi yang terlalu berlebihan, khayalan yang luar biasa akan hal - hal besar yang bisa dilakukan tapi tidak akan pernah terjadi.
Karena di siang hari hanya dapat tergeletak meringkuk di atas tempat tidur sebagai bentuk pelarian.
Semakin lama menunda - nunda, semakin kalah atas rasa takut, semakin kecil nilai dari diri sendiri.
Pada akhirnya pikiran untuk menyerah datang, awalnya tipis, mengalung di sekitar leher.
Dada terasa semakin sesak, saat kenyataan datang menghantam.
Waktu semakin sedikit, kesempatan semakin kecil, daya juang termakan rasa takut yang menang terus menerus.
Sadar akan kenyataan tapi memilih untuk menyangkal dengan ilusi bahwa "Masih ada waktu," "Masih ada kesempatan yang lain," dan "Aku baik - baik saja."
Ilusi terus bekerja sampai waktu habis, kesempatan hilang, daya juang tak bersisa.
Dada terasa semakin sesak, yang mengalung tipis merajut terus, semakin tebal.
Takut, rendah diri, hilang harapan, menjadi kelambu yang menutup mata pikiran terhadap kesempatan yang datang dan pergi silih berganti.
Dan yang semula mengalung tipis, terus merajut semakin tebal, semakin nyata.
Tapi kini dada tidak terasa sesak lagi, hampa tanpa perasaan.
Mati, dimakan dari dalam.
Pada akhirnya yang nyata adalah tali tambang mengalung di leher dan daya juang untuk kabur dari kenyataan.
Untuk terakhir kalinya.
Sekilas tentang apa yang saya pikirkan depresi dalam tulisan singkat, jelek dan tidak berarti ini.
Depresi
Dimulai dengan penundaan bertubi - tubi dari hal kecil yang harusnya dapat diselesaikan hari ini.
Menunda karna rasa takut dan kecemasan kecil yang menang secara terus menerus.
Berakhir dengan kesedihan, merasa tidak berguna, rendah diri dan penurunan nilai diri sendiri.
Dibalut dengan ekspetasi yang terlalu berlebihan, khayalan yang luar biasa akan hal - hal besar yang bisa dilakukan tapi tidak akan pernah terjadi.
Karena di siang hari hanya dapat tergeletak meringkuk di atas tempat tidur sebagai bentuk pelarian.
Semakin lama menunda - nunda, semakin kalah atas rasa takut, semakin kecil nilai dari diri sendiri.
Pada akhirnya pikiran untuk menyerah datang, awalnya tipis, mengalung di sekitar leher.
Dada terasa semakin sesak, saat kenyataan datang menghantam.
Waktu semakin sedikit, kesempatan semakin kecil, daya juang termakan rasa takut yang menang terus menerus.
Sadar akan kenyataan tapi memilih untuk menyangkal dengan ilusi bahwa "Masih ada waktu," "Masih ada kesempatan yang lain," dan "Aku baik - baik saja."
Ilusi terus bekerja sampai waktu habis, kesempatan hilang, daya juang tak bersisa.
Dada terasa semakin sesak, yang mengalung tipis merajut terus, semakin tebal.
Takut, rendah diri, hilang harapan, menjadi kelambu yang menutup mata pikiran terhadap kesempatan yang datang dan pergi silih berganti.
Dan yang semula mengalung tipis, terus merajut semakin tebal, semakin nyata.
Tapi kini dada tidak terasa sesak lagi, hampa tanpa perasaan.
Mati, dimakan dari dalam.
Pada akhirnya yang nyata adalah tali tambang mengalung di leher dan daya juang untuk kabur dari kenyataan.
Untuk terakhir kalinya.
Rabu, 01 April 2015
My Rant
Bumi terdiri dari air tanah api udara dan kehidupan
Menurut orang yang mengacu pada kitab suci
Tuhan menciptakan semuanya dalam waktu 6 hari dan hari ke 7 tuhan beristirahat
Menurut kitab suci juga di tulis setan dan hantu itu ada
Tapi entah kenapa manusia susah untuk percaya setan dan hantu itu ada
Bahkan daripada percaya mereka menggunakan atribut - atribut keagamaan untuk di jadikan sumber penghasilan
Bahkan mengkomersialkan setan dan hantu.
Well tidak bisa di bilang. Tidak bisa di pungkiri.
Manusia begitu. Saya juga manusia.
Saya juga begitu. Tapi apakah manusia harus seperti itu?
Manusia menurut saya mempunyai kemungkinan tidak terbatas dan terbatas juga di saat yang bersamaan
Sama seperti ada manusia yang baik dan yang buruk
Sama seperti ada gelap dan terang
Bahagia dan sengsara
Ya hidup manusia begitu.
Kalo bisa di sederhanakan manusia itu hidupnya Bahagia dan Sengsara.
Manusia itu menjaga dan menghancurkan pada saat bersamaan.
Begitulah
so take a side with your own way.
Menurut orang yang mengacu pada kitab suci
Tuhan menciptakan semuanya dalam waktu 6 hari dan hari ke 7 tuhan beristirahat
Menurut kitab suci juga di tulis setan dan hantu itu ada
Tapi entah kenapa manusia susah untuk percaya setan dan hantu itu ada
Bahkan daripada percaya mereka menggunakan atribut - atribut keagamaan untuk di jadikan sumber penghasilan
Bahkan mengkomersialkan setan dan hantu.
Well tidak bisa di bilang. Tidak bisa di pungkiri.
Manusia begitu. Saya juga manusia.
Saya juga begitu. Tapi apakah manusia harus seperti itu?
Manusia menurut saya mempunyai kemungkinan tidak terbatas dan terbatas juga di saat yang bersamaan
Sama seperti ada manusia yang baik dan yang buruk
Sama seperti ada gelap dan terang
Bahagia dan sengsara
Ya hidup manusia begitu.
Kalo bisa di sederhanakan manusia itu hidupnya Bahagia dan Sengsara.
Manusia itu menjaga dan menghancurkan pada saat bersamaan.
Begitulah
so take a side with your own way.
Selasa, 31 Maret 2015
Senin, 02 Maret 2015
Aku Ceritakan Kepadamu Kisah Cinta Sedihku
Judul di atas balasan untuk giveaway
yang akan gua ikuti dari @aprieJ
Ini cerita sedih yang muncul mendadak yang gua tulis selama 30 menit.
Spontan!
jadi maaf kalau ada kurang pada penulisan dan pemilihan katanya.
twitter penulis : @AdrianPangestu
selamat menikmati. Semoga sesuai dengan selera anda yang membaca.
Tempurung
Matahari
turun untuk istirahat sinarnya berlahan – lahan turun meninggalkan potongan –
potongan cahaya terpancar dari atas gunung, di pondokan aku duduk setiap
harimenikmatinya dengan kopi radio kalo beruntung ada pisang goreng, entah
sudah berapa lama ini menjadi pemandangan yang aku lihat. Sudah tidak ingat
lagi kapan dimulainya, rasanya seumur hidupku akan melihat pemandangan yang
sama entah sampai kapan badan ini hancur dan sakit.
Aku
bisa mengatakan itu karena aku seorang petani, membajak ladang hanya pekerjaan
yang bisa aku lakukan setelahnya aku belajar hal – hal yang lainnya yang
berhubungan dengan ladang. Aku mengerti hanya ini yang bisa dilakukan oleh
orang yang tidak berpendidikan seperti aku. Turun dari bapak ke anak. Lahan
yang semakin lama semakin kecil. Kantong yang semakin lama semakin miskin tidak
sebanding dengan harga.
Untuk
bertahan kita harus mengambil hati bos besar di desa untuk membantu kita.
Sayangnya beliau bukan orang yang murah hati. Ketika tidak ada untung yang bisa
diandalkan hanya ingatan beliau tentang kita. Apakah kita baik atau tidak?
Apakah kita bisa ditolong atau tidak?
Kebetulan
aku adalah salah satu orang favoritnya. Orang yang selalu datang di saat di
butuhkan bahkan membiarkan bapak bekerja sendiri pun harus aku lakukan demi
menjaga hubungan baik membantu bos besar agar bisnisnya dan hatinya bisa
bertahan di desa ini. Aku tersenyum tentang apa saja yang sudah aku lakukan
untuk bos besar.
Dari
menjadi teman baik anaknya, membantu bos membuat acara besar di desa untuk
membuat warga lainnya menerima beliau, mencari batu akik spesial di hutan,
sampai menolong bos yang dikejar kerbau, kalau tidak kutolong sudah habis dia
diseruduk kerbau. Ingatan itu membuatku tersenyum sedikit.
“Bang
senyum – senyum sendiri saja nanti disangka gila loh.”
Aku terkejut dan terbangun dari lamunanku melihat Nina sudah
berdiri di depanku menghalangi sinar matahari senja yang sudah mulai redup.
Alangkah eloknya pemandangan yang aku lihat, Paras cantik Nina tertutup sedikit
bayangan dan hanya pinggirnya yang bercahaya menembus juntaian rambutnya yang
terlepas dari ikatan di belakang kepalanya yang kecil. Tubuhnya yang kurus
langsing tak bisa aku bilang ada laki – laki yang bisa menolak tubuh itu.
Terkadang kalo sangat beruntung Nina akan datang mampir sebentar. Ini
pemandangan lain favoritku, yang satu membuat ku tenang yang ini membuatku
senang.
“Ah
bisa aja dek. Kalo abang gila kasian Pak Bahur. Gak ada lagi orang andalannya
di desa ini.”
“Ah
abang bisa aja. Kenapa sih senyum – senyum sendiri?”
“Aku
tersenyum liat kau yang manis dek.”
“Ih.”
Nina memukul manja lenganku.
“Lah
abang salah apa kok dipukul!” Aku bermain – main berpura – pura kaget dipukul
Nina.
“Nina
kan baru datang abang senyumnya dari tadi.”
“Ya
abang hanya teringat tadi pas Pak Bahur lari – lari dikejar sama kerbau.”
Nina tertawa mendengar aku mengungkit hal itu lagi di desa
ini hanya beberapa hal yang bisa ditertawakan salah satunya yah kejadian si bos
dikejar kerbau.
Kita biasanya hanya berbicara untuk beberapa menit setelah
itu Nina pulang karena hari sudah gelap. Matahari sudah mulai hanya terlihat
ujungnya saja kalau sudah begini Nina pasti pamit pulang.
“Abang
Nina pulang dulu yah.”
Nina yang dari duduk bersimpuh sudah dalam posisi setengah
berdiri bersandar berat pada kedua lututnya
Kali ini tidak ada jawaban “Iya hati – hati ya Nina.”
“Makasih ya udah nemeni abang ngobrol Nina.” “Abang antar pulang yah Nina.” Aku
sudah tak tahan aku membalasnya dengan sebuah pelukan yang kusambung dengan
ciuman di bibir Nina aku bisa merasakan tubuh Nina menegang kaget karena
kucium. Aku juga tidak mengerti tentang apa yang aku lakukan aku kaget bukan
kepalang dengan tindakanku.
Masih dalam pelukanku Nina yang masih kaget sama kagetnya
denganku terdiam sebentar bibirnya terbuka membentuk celah matanya terbelalak
kaget. Aku ingin menciumnya lagi tapi kali ini bibirku kugunakan untuk hal lain
aku mencoba untuk bicara.
“Nina,
abang sudah lama sayang sama adek. Mungkin abang bukan lelaki yang paling baik,
mungkin kalau kamu menolak abang kamu masih bisa menemukan lelaki yang lebih
baik lagi. Mungkin kalau kamu menerima abang kamu akan menderita dan hanya
menemukan kesusahan. Hidup abang cuma di desa ini. Tidak mewah, tidak megah.
Meskipun begitu abang mau dek Nina mempertimbangkan untuk hidup berdua dengan
abang. Mau gak, dek Nina menikah dengan abang?”
Dengan suara mantap aku mengatakannya dengan lancar tidak
terputus. Nina terdiam mendorongku pelan menjauh. Nina kembali terduduk
bersimpuh dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkram kain yang membalut
kakinya dari pinggang kebawah. Aku ketakutan setengah mati dia akan menolakku.
Sejenak dia memandangku
dengan wajah ragu, takut, bimbang selama beberapa saat. Aku tidak bisa membaca
apa artinya tatapannya. Detik berikutnya
Nina sudah meloncat turun dari saung memakai sandalnya dan buru – buru pergi.
Aku berteriak memanggil namanya tapi Nina tidak berbalik sedikit pun
mengacuhkan panggilanku kepadanya.
Aku tercenung beberapa saat melihat cahaya matahari senja
hilang sekaligus dengan cintaku. Aku merasa hampa pada saat itu. Aku terdiam
untuk saat yang lama sampai ternyata hari sudah gelap. Aku pulang berbesih
diri lalu istirahat seperti biasa.
Di dalam gelap malam aku terbaring di tempat tidur beranyam
bambu dengan kain sebagai alas dan sebuah bantal kapuk yang sudah lama dan
menghitam. Perlahan aku mulai merasa sakit. Rasanya menusuk dada aku merasa
sesak tidak bisa bernapas, leherku tercekat tidak ada suara yang keluar. Air mata
mulai mengalir dari pinggir mataku turun ketelinga. Aku menangis sendiri dalam
gelap, menjerit sendiri tanpa suara, awalnya aku merasa sedih karena ternyata
cintaku bertepuk sebelah tangan aku menangis selama beberapa lama aku tidak
tahu. Setelah berikutnya aku tenang lalu sekali lagi aku merasakan lagi gelombang kesedihan yang
sedikit berbeda dari sebelumnya aku takut kehilangan momen – momen menyenangkan
setelah selesai bekerja di sore hari bersama Nina. Ini yang terakhir tidak ada
lagi, Aku kembali merasakan air mataku kembali mengalir rasa sakit di dada di
gantikan amarah karena ketakutan yang aku rasakan, aku tidak menjerit, kali ini aku terisak seperti anak kecil.
Ketika aku tersadar
ternyata hari sudah pagi, aku harus bersiap – siap membantu bapak di ladang,
aku terlelap kecapaian menangis. Hati ku risau, resah, gelisah tidak pernah tenang mulai dari waktu aku
bangun sampai pada saat aku bekerja. Aku ingin pikiran burukku hilang. Aku
membohongi diri sendiri untuk mengusirnya. Nina pasti akan datang sore ini.
Sore hari pun datang disaat sudah waktunya selesai bekerja
aku segera bergegas untuk duduk di saung seperti biasa, jantungku berdebar
kencang harapanku tinggi melonjak ke angkasa berharap Nina akan datang menghampiriku
seperti biasa. Tidak pernah aku berharap, takut, dan berekspetasi
sekencang ini. Ekstasi baru yang pertama
kali aku rasakan seumur hidupku.
Aku duduk dengan tenang menatapi cahaya matahari turun
perlahan ditelan bukit, aku terlihat tenang menatapinya setiap orang yang lewat
menyapaku aku balas menyapanya hanya saja mataku selalu menatap matahari, aku
terlihat tenang tapi di dalam aku gelisah, cemas, takut, berharap. Matahari
sudah setengah tenggelam, harapanku masih melambung tinggi. Setiap detik aku
melihat matahari turun dengan lambat di makan bukit aku semakin cemas, semakin
pupus harapan, tanganku bergetar. Menit berikutnya matahari sudah tinggal
seujung, tanganku saling bertautan, bergetar hebat, aku berdoa kepada Tuhan
agar Dia sudi mengatur Nina bisa datang ketempat ini sekarang juga. Matahari
sudah turun tenggelam dimakan bukit aku sekali lagi menangis, tersungkur
meraung di lantai anyaman saung, menyesali perbuatanku pada momen ini satu hari
yang lalu. Realita menghantamku kencang, Nina gak akan datang, lebih dari pada
ditolak hubungan kita telah hancur hilang di hapus oleh bibir kita yang
bersentuhan. Saat aku mengecupnya.
jadi maaf kalau ada kurang pada penulisan dan pemilihan katanya.
twitter penulis : @AdrianPangestu
selamat menikmati. Semoga sesuai dengan selera anda yang membaca.
Tempurung
Matahari turun untuk istirahat sinarnya berlahan – lahan turun meninggalkan potongan – potongan cahaya terpancar dari atas gunung, di pondokan aku duduk setiap harimenikmatinya dengan kopi radio kalo beruntung ada pisang goreng, entah sudah berapa lama ini menjadi pemandangan yang aku lihat. Sudah tidak ingat lagi kapan dimulainya, rasanya seumur hidupku akan melihat pemandangan yang sama entah sampai kapan badan ini hancur dan sakit.
Aku bisa mengatakan itu karena aku seorang petani, membajak ladang hanya pekerjaan yang bisa aku lakukan setelahnya aku belajar hal – hal yang lainnya yang berhubungan dengan ladang. Aku mengerti hanya ini yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan seperti aku. Turun dari bapak ke anak. Lahan yang semakin lama semakin kecil. Kantong yang semakin lama semakin miskin tidak sebanding dengan harga.
Untuk bertahan kita harus mengambil hati bos besar di desa untuk membantu kita. Sayangnya beliau bukan orang yang murah hati. Ketika tidak ada untung yang bisa diandalkan hanya ingatan beliau tentang kita. Apakah kita baik atau tidak? Apakah kita bisa ditolong atau tidak?
Kebetulan aku adalah salah satu orang favoritnya. Orang yang selalu datang di saat di butuhkan bahkan membiarkan bapak bekerja sendiri pun harus aku lakukan demi menjaga hubungan baik membantu bos besar agar bisnisnya dan hatinya bisa bertahan di desa ini. Aku tersenyum tentang apa saja yang sudah aku lakukan untuk bos besar.
Dari menjadi teman baik anaknya, membantu bos membuat acara besar di desa untuk membuat warga lainnya menerima beliau, mencari batu akik spesial di hutan, sampai menolong bos yang dikejar kerbau, kalau tidak kutolong sudah habis dia diseruduk kerbau. Ingatan itu membuatku tersenyum sedikit.
“Bang senyum – senyum sendiri saja nanti disangka gila loh.”
Aku terkejut dan terbangun dari lamunanku melihat Nina sudah berdiri di depanku menghalangi sinar matahari senja yang sudah mulai redup. Alangkah eloknya pemandangan yang aku lihat, Paras cantik Nina tertutup sedikit bayangan dan hanya pinggirnya yang bercahaya menembus juntaian rambutnya yang terlepas dari ikatan di belakang kepalanya yang kecil. Tubuhnya yang kurus langsing tak bisa aku bilang ada laki – laki yang bisa menolak tubuh itu. Terkadang kalo sangat beruntung Nina akan datang mampir sebentar. Ini pemandangan lain favoritku, yang satu membuat ku tenang yang ini membuatku senang.
“Ah bisa aja dek. Kalo abang gila kasian Pak Bahur. Gak ada lagi orang andalannya di desa ini.”“Ah abang bisa aja. Kenapa sih senyum – senyum sendiri?”“Aku tersenyum liat kau yang manis dek.”“Ih.” Nina memukul manja lenganku.“Lah abang salah apa kok dipukul!” Aku bermain – main berpura – pura kaget dipukul Nina.“Nina kan baru datang abang senyumnya dari tadi.”“Ya abang hanya teringat tadi pas Pak Bahur lari – lari dikejar sama kerbau.”
Nina tertawa mendengar aku mengungkit hal itu lagi di desa ini hanya beberapa hal yang bisa ditertawakan salah satunya yah kejadian si bos dikejar kerbau.Kita biasanya hanya berbicara untuk beberapa menit setelah itu Nina pulang karena hari sudah gelap. Matahari sudah mulai hanya terlihat ujungnya saja kalau sudah begini Nina pasti pamit pulang.“Abang Nina pulang dulu yah.”Nina yang dari duduk bersimpuh sudah dalam posisi setengah berdiri bersandar berat pada kedua lututnyaKali ini tidak ada jawaban “Iya hati – hati ya Nina.” “Makasih ya udah nemeni abang ngobrol Nina.” “Abang antar pulang yah Nina.” Aku sudah tak tahan aku membalasnya dengan sebuah pelukan yang kusambung dengan ciuman di bibir Nina aku bisa merasakan tubuh Nina menegang kaget karena kucium. Aku juga tidak mengerti tentang apa yang aku lakukan aku kaget bukan kepalang dengan tindakanku.Masih dalam pelukanku Nina yang masih kaget sama kagetnya denganku terdiam sebentar bibirnya terbuka membentuk celah matanya terbelalak kaget. Aku ingin menciumnya lagi tapi kali ini bibirku kugunakan untuk hal lain aku mencoba untuk bicara.“Nina, abang sudah lama sayang sama adek. Mungkin abang bukan lelaki yang paling baik, mungkin kalau kamu menolak abang kamu masih bisa menemukan lelaki yang lebih baik lagi. Mungkin kalau kamu menerima abang kamu akan menderita dan hanya menemukan kesusahan. Hidup abang cuma di desa ini. Tidak mewah, tidak megah. Meskipun begitu abang mau dek Nina mempertimbangkan untuk hidup berdua dengan abang. Mau gak, dek Nina menikah dengan abang?”Dengan suara mantap aku mengatakannya dengan lancar tidak terputus. Nina terdiam mendorongku pelan menjauh. Nina kembali terduduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkram kain yang membalut kakinya dari pinggang kebawah. Aku ketakutan setengah mati dia akan menolakku.Sejenak dia memandangku dengan wajah ragu, takut, bimbang selama beberapa saat. Aku tidak bisa membaca apa artinya tatapannya. Detik berikutnya Nina sudah meloncat turun dari saung memakai sandalnya dan buru – buru pergi.Aku berteriak memanggil namanya tapi Nina tidak berbalik sedikit pun mengacuhkan panggilanku kepadanya.Aku tercenung beberapa saat melihat cahaya matahari senja hilang sekaligus dengan cintaku. Aku merasa hampa pada saat itu. Aku terdiam untuk saat yang lama sampai ternyata hari sudah gelap. Aku pulang berbesih diri lalu istirahat seperti biasa.Di dalam gelap malam aku terbaring di tempat tidur beranyam bambu dengan kain sebagai alas dan sebuah bantal kapuk yang sudah lama dan menghitam. Perlahan aku mulai merasa sakit. Rasanya menusuk dada aku merasa sesak tidak bisa bernapas, leherku tercekat tidak ada suara yang keluar. Air mata mulai mengalir dari pinggir mataku turun ketelinga. Aku menangis sendiri dalam gelap, menjerit sendiri tanpa suara, awalnya aku merasa sedih karena ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan aku menangis selama beberapa lama aku tidak tahu. Setelah berikutnya aku tenang lalu sekali lagi aku merasakan lagi gelombang kesedihan yang sedikit berbeda dari sebelumnya aku takut kehilangan momen – momen menyenangkan setelah selesai bekerja di sore hari bersama Nina. Ini yang terakhir tidak ada lagi, Aku kembali merasakan air mataku kembali mengalir rasa sakit di dada di gantikan amarah karena ketakutan yang aku rasakan, aku tidak menjerit, kali ini aku terisak seperti anak kecil.Ketika aku tersadar ternyata hari sudah pagi, aku harus bersiap – siap membantu bapak di ladang, aku terlelap kecapaian menangis. Hati ku risau, resah, gelisah tidak pernah tenang mulai dari waktu aku bangun sampai pada saat aku bekerja. Aku ingin pikiran burukku hilang. Aku membohongi diri sendiri untuk mengusirnya. Nina pasti akan datang sore ini.Sore hari pun datang disaat sudah waktunya selesai bekerja aku segera bergegas untuk duduk di saung seperti biasa, jantungku berdebar kencang harapanku tinggi melonjak ke angkasa berharap Nina akan datang menghampiriku seperti biasa. Tidak pernah aku berharap, takut, dan berekspetasi sekencang ini. Ekstasi baru yang pertama kali aku rasakan seumur hidupku.Aku duduk dengan tenang menatapi cahaya matahari turun perlahan ditelan bukit, aku terlihat tenang menatapinya setiap orang yang lewat menyapaku aku balas menyapanya hanya saja mataku selalu menatap matahari, aku terlihat tenang tapi di dalam aku gelisah, cemas, takut, berharap. Matahari sudah setengah tenggelam, harapanku masih melambung tinggi. Setiap detik aku melihat matahari turun dengan lambat di makan bukit aku semakin cemas, semakin pupus harapan, tanganku bergetar. Menit berikutnya matahari sudah tinggal seujung, tanganku saling bertautan, bergetar hebat, aku berdoa kepada Tuhan agar Dia sudi mengatur Nina bisa datang ketempat ini sekarang juga. Matahari sudah turun tenggelam dimakan bukit aku sekali lagi menangis, tersungkur meraung di lantai anyaman saung, menyesali perbuatanku pada momen ini satu hari yang lalu. Realita menghantamku kencang, Nina gak akan datang, lebih dari pada ditolak hubungan kita telah hancur hilang di hapus oleh bibir kita yang bersentuhan. Saat aku mengecupnya.
Sabtu, 31 Januari 2015
Unfair enviroment.
Setiap orang lahir di dalam keluarga yang berbeda - beda.
ada yang lahir di keluarga yang tidak mampu.
ada yang lahir di keluarga yang kaya.
Ada yang lahir dan menemukan dia tidak mempunyai keluarga.
Ada yang lahir dengan kondisi orang tuanya berpindah - pindah tempat karena pekerjaan.
Ada yang lahir menemukan hanya 1 dari orangtuanya.
Ada yang lahir dengan kelebihan organ atau bagian tubuh.
Ada yang lahir dengan kekurangan organ atau bagian tubuh,
Intinya banyak kondisi seseorang hidup atau lahir di dunia ini. kalau di tulis banyak banget. Tapi apakah semua itu menjadi sesuatu yang tidak adil.
Seseorang yang bertemu dengan saya secara tidak sengaja memberikan pandangan baru.
Setiap orang yang lahir di dunia ini itu dalam kondisi yang adil.
Hanya saja ruang atau lingkungan yang menunjukkan sesuatu yang kebanyakan (normal) membuat orang melihat ketidakpunyaannya menjadi halangan.
Beliau mengatakan dengan setiap kondisi yang dimiliki orang tersebut wajib untuk menjadikannya sebuah kesempatan atau kekuatan tersendiri.
Beliau mengatakan
Untuk yang terlahir kaya, kamu bisa menggunakan uang untuk membuat kamu menjadi lebih baik dan disekitarmu jadi lebih baik.
Yang tidak mampu dari awal, kamu bisa menggunakan ketidakpunyaanmu untuk menjadi sebuah daya juang karena pikiran mu akan mencari bagaimana menghasilkan yang lebih.
You will hunger more than normal people and if you don't quit. You will find the way and found out you leading in life.
Bagaimana dengan yang lain?
Menurut beliau pasti banyak yang mereka punya kenormalan di sekitar mereka menutupnya. Sementara untuk orang yang normal seperti kita harus berpikir keras untuk menemukannya bagi mereka karena kita terlahir dengan kondisi yang berbeda. Meski berbeda itu adalah kondisi yang adil. Kebanyakan yang kurang secara fisik atau material akan lebih kuat pada sesuatu yang bukan fisiknya dan sesuatu yang berbau duniawi.
Moral, daya juang, mental, habit.
Sampai sekarang saya masih belum bisa menentukan apakah adil atau tidak.
ada yang lahir di keluarga yang tidak mampu.
ada yang lahir di keluarga yang kaya.
Ada yang lahir dan menemukan dia tidak mempunyai keluarga.
Ada yang lahir dengan kondisi orang tuanya berpindah - pindah tempat karena pekerjaan.
Ada yang lahir menemukan hanya 1 dari orangtuanya.
Ada yang lahir dengan kelebihan organ atau bagian tubuh.
Ada yang lahir dengan kekurangan organ atau bagian tubuh,
Intinya banyak kondisi seseorang hidup atau lahir di dunia ini. kalau di tulis banyak banget. Tapi apakah semua itu menjadi sesuatu yang tidak adil.
Seseorang yang bertemu dengan saya secara tidak sengaja memberikan pandangan baru.
Setiap orang yang lahir di dunia ini itu dalam kondisi yang adil.
Hanya saja ruang atau lingkungan yang menunjukkan sesuatu yang kebanyakan (normal) membuat orang melihat ketidakpunyaannya menjadi halangan.
Beliau mengatakan dengan setiap kondisi yang dimiliki orang tersebut wajib untuk menjadikannya sebuah kesempatan atau kekuatan tersendiri.
Beliau mengatakan
Untuk yang terlahir kaya, kamu bisa menggunakan uang untuk membuat kamu menjadi lebih baik dan disekitarmu jadi lebih baik.
Yang tidak mampu dari awal, kamu bisa menggunakan ketidakpunyaanmu untuk menjadi sebuah daya juang karena pikiran mu akan mencari bagaimana menghasilkan yang lebih.
You will hunger more than normal people and if you don't quit. You will find the way and found out you leading in life.
Bagaimana dengan yang lain?
Menurut beliau pasti banyak yang mereka punya kenormalan di sekitar mereka menutupnya. Sementara untuk orang yang normal seperti kita harus berpikir keras untuk menemukannya bagi mereka karena kita terlahir dengan kondisi yang berbeda. Meski berbeda itu adalah kondisi yang adil. Kebanyakan yang kurang secara fisik atau material akan lebih kuat pada sesuatu yang bukan fisiknya dan sesuatu yang berbau duniawi.
Moral, daya juang, mental, habit.
Sampai sekarang saya masih belum bisa menentukan apakah adil atau tidak.
Sabtu, 24 Januari 2015
About pijat in barber shop
Hari ini mulai banyak atau mulai ngehits barber shop
Tempat cukur atau potong rambut dengan ala2 kekinian.
Dengan tempat dan desain yang cukup kece.
Berdasarkan pengalaman gua ada beberapa hal yang perlu di perhatikan.
1.Kemarin waktu sebelum giliran gua di potong. Si barbernya gak sama sekali membersihkan peralatannya dari rambut customer sebelumnya. biasanya berdasarkan pengalaman gua di salon sampai tempat cukur DPR (dibawah pohon rindang)habis motong bersihin rambut2 yang ada di gunting atau setidaknya di sentak sampai gak ada rambut di gunting.
2. biasanya setelah motong ada di kasih layanan pijat. Kebanyakan saya tolak.
KENAPA?
karena belum tentu si orang tersebut punya keahlian yang khusus dalam memijat.
Kesalahan pada memijat apa lagi orang yang pijat dengan tenaga besar bisa mencederai otot atau menyebabkan saraf kejepit (gua kena saraf kejepit kemarin. DAMN. u(T_T)u )
3. Setelah itu biasanya kepala kita dicuci.
dengan menggunakan handuk panas untuk menutupi kepala kita. biasanya selagi di keramas kepala kita dipijat2. kemarin kepala gua di ubek2 pake satu tangan. gua lepasin handuknya dan yang gua temuin adalah MAS MAS BARBERNYA LAGI NONTON TV dan kepala gua di ubek2 pake satu tangan. Boleh marah dong.
Intinya kebersihan dan pelayanan patut di perhatikan.
Barbershop yang gua ceritain sebaiknya namanya dirahasiakan.
Tapi setidaknya lebih hati - hati soal pijat.
Tempat cukur atau potong rambut dengan ala2 kekinian.
Dengan tempat dan desain yang cukup kece.
Berdasarkan pengalaman gua ada beberapa hal yang perlu di perhatikan.
1.Kemarin waktu sebelum giliran gua di potong. Si barbernya gak sama sekali membersihkan peralatannya dari rambut customer sebelumnya. biasanya berdasarkan pengalaman gua di salon sampai tempat cukur DPR (dibawah pohon rindang)habis motong bersihin rambut2 yang ada di gunting atau setidaknya di sentak sampai gak ada rambut di gunting.
2. biasanya setelah motong ada di kasih layanan pijat. Kebanyakan saya tolak.
KENAPA?
karena belum tentu si orang tersebut punya keahlian yang khusus dalam memijat.
Kesalahan pada memijat apa lagi orang yang pijat dengan tenaga besar bisa mencederai otot atau menyebabkan saraf kejepit (gua kena saraf kejepit kemarin. DAMN. u(T_T)u )
3. Setelah itu biasanya kepala kita dicuci.
dengan menggunakan handuk panas untuk menutupi kepala kita. biasanya selagi di keramas kepala kita dipijat2. kemarin kepala gua di ubek2 pake satu tangan. gua lepasin handuknya dan yang gua temuin adalah MAS MAS BARBERNYA LAGI NONTON TV dan kepala gua di ubek2 pake satu tangan. Boleh marah dong.
Intinya kebersihan dan pelayanan patut di perhatikan.
Barbershop yang gua ceritain sebaiknya namanya dirahasiakan.
Tapi setidaknya lebih hati - hati soal pijat.
Jumat, 02 Januari 2015
Mimpi berjuta Bintang
Pada saat kita tidur kita bermimpi
Perjalanan dimulai dari saat matahari tidak bersinar
Dimulai di atas langit yang gelap
Awalnya gelap.
Sampai kita melihat bintang.
Berjuta - juta bintang berkelap kelip di langit gelap
saat matahari tidak ada kita melihat bintang
Mimpi seperti itu
di saat gelap dan tidak bisa berjalan lagi carilah berjuta - juta harapan kecil
istirahat sebentar sampai sampai matahari terbit
membakar lagi
menerjang lagi.
sebelum lampu - lampu kota di depan mata
menutup cahaya bintang.
mengalihkan pandangan.
menyesatkan arah.
Perjalanan dimulai dari saat matahari tidak bersinar
Dimulai di atas langit yang gelap
Awalnya gelap.
Sampai kita melihat bintang.
Berjuta - juta bintang berkelap kelip di langit gelap
saat matahari tidak ada kita melihat bintang
Mimpi seperti itu
di saat gelap dan tidak bisa berjalan lagi carilah berjuta - juta harapan kecil
istirahat sebentar sampai sampai matahari terbit
membakar lagi
menerjang lagi.
sebelum lampu - lampu kota di depan mata
menutup cahaya bintang.
mengalihkan pandangan.
menyesatkan arah.
Langganan:
Komentar (Atom)