Rabu, 03 September 2014

Bayangan di balik mimpi

Hai,
Perkenalkan aku yang berada di depan kalian,
Tidak perlu memakai nama cukup di baca saja dan mungkin kalian akan lebih mengenalku lebih jauh dari pada mengetahui sebuah nama.

Begini ceritanya,
Waktu kecil ingat gak orang tua kalian akan bertanya :
"waktu kamu besar kamu mau jadi apa?"
"Kamu cita - citanya apa?"

Kebanyakan anak akan dengan lantang menjawab cita - citanya,
Dan beberapa lagi akan diam, atau menjawab asal - asalan untuk menghindarinya.
Nah, aku adalah yang nomor 2.
Waktu kecil aku selalu kagum terhadap teman - teman yang bisa sangat berdedikasi tehadap pelajarannya.
Bukan yang sekedar pintar dan memenuhi kuota untuk belajar, agar kelihatan bagus di mata orangtua.
Tapi yang benar - benar berdedikasi.
Aku selalu berpikir mereka mengetahui apa yang mereka mau dan akan membuka jalan didepan mata mereka untuk meraih apa yang mereka inginkan.
Dan aku iri membayangkan itu,
bukan kagum perasaan yang sangat mewah, indah, penuh pukau dan positive.
Tapi Iri perasaan yang sangat menekan, membakar dan melukai diri sendiri.
Mulai saat itu aku memutuskan untuk menjadi seperti mereka dan berusaha membajak semua perilaku tingkah laku mereka.
Dengan tujuan untuk mengatasi rasa iri dan melihat kedalam pintu yang melindungi mimpiku
Namun itu tidak berhasil dan aku gagal total.
Di dalam kegagalan aku menjadi acuh tak acuh terhadap diriku, prestasi dan kawan - kawan.
Ketika semuanya terlalu penuh perlahan - lahan aku lebih mengenal diriku sendiri, mengerti tentang berperilaku dan mempunyai gambaran menjadi manusia seperti apa yang aku inginkan.
Tapi aku belum mengeti tentang apa mimpi ku

Di masa selanjutnya aku lebih berusaha untuk menjadi lebih baik lagi di setiap hal di aspek dan kegiatan yang aku temui dalam kehidupanku
Belajar, bersosialisasi, musik, organisasi, basket, futsal, bekerja, bahkan asmara.
alhasil aku menemukan untuk beberapa hal aku mampu dengan mudah menguasainya dan menjadi lebih baik dan untuk yang lainnya tidak begitu memuaskan atau bisa dibilang buruk.
Aku tersadar tidak mungkin untuk melakukan semuanya dan mulai menghindari secara ekstrim apa yang tidak menunjukkan hasil dan mulai beralih kepada apa yang bisa aku kerjakan.
Penghindaran tersebut harus dibayar dengan sangat mahal, beberapa teman mulai menghilang dan gosip negatif tentu saja bermunculan.

Didalam lingkungan sosialisasi yang borjuis dimana semua orang membicarakan apa yang akan mereka kerjakan berapa penghasilan mereka, mereka baru jalan dari mana, apa yang dibeli, apa yang dimakan, berapa kali semua yang disebutkan tadi terjadi dan dibicarakan selama seminggu, sebulan dan setahun secara terus menerus membuat aku berpikir prioritas utama adalah uang,
Dan pembicaraan tentang mengejar mimpi hilang begitu saja,
Tujuan utamaku pada saat itu berubah menjadi mengejar penghasilan, tabungan, merek sepatu, model maju, kafe, dan segala hal yang berhubungan dengan mengejar kesejahteraan kalangan atas atau lebih diplesetkan menjadi istilah inggris yaitu "lifestyle".
Mengejar mimpi terlupakan mendengar uang menggelapkan pandanganku dan membuka pengetahuan tentang harga barang, hal - hal yang bisa dilakukan dengan uang segini bagaimana mendapatkan barang murah di pelabuhan, online shooping.
Perlahan pengetahuan membesarkan hasrat dan menekanku lebih jauh kebawah tertinggal dari yang lainnya karena hati ku memberatkan ku berusaha berteriak tentang pencarian mimpiku.
Setelah beberapa tahun hatiku berteriak dan tidak dihiraukan aku bertemu dengan seseorang yang mengingatkan kembali pada pencarian mimpiku.

Begini ceritanya,
Aku bertemu dengan teman ini sewaktu petualangan sosial untuk mencari kenalan yang borjuis mempunyai minat yang sama pada uang dan kehidupan berkelimpahan.
dia adalah seorang pelukis, penulis lagu, DJ, dan bartender.
Beberapa tahun lebih tua dariku dan tentu saja sukses.
Mendengar ceritanya begitu mencengangkan, dia tidak pernah berfokus pada uang, apa yang akan dia makan, bakal jalan kemana, berapa yang dia hasilkan selama sebulan, atau rumahnya berapa.
Dia menceritakan fokusnya pada seni bagaimana dia memutuskan untuk mengambil sampingan menjadi bartender, lalu belajar melukis dari cintanya, belajar menjadi DJ dari sampingannya, dan menulis lagu setelah mengenal nada.
Paling ditekankan adalah apresiasi dari apa yang dikerjakan sekarang, loyalitas terhadap suatu bidang, dan kesungguhan hati jiwa dan raga dalam mengerjakannya.
Dengan apresiasi kita tidak akan membiarkan orang menghina apa yang kita kerjakan dan hasilnya
Dengan Loyalitas kita tidak akan mudah berpindah hati dari bidang yang ditekuni
Dengan Kesungguhan Hati, jiwa, dan raga dalam mengerjakannya membuat kita bekerja keras terhadap bidang yang kita tekuni dan kerja keras selalu membuahkan hasil.
dan ketiga hal itu bisa muncul ketika semua mulai dari mimpi, impian, cita - cita.

Dari selesai pembicaraan itu, dijalan pulang dan sampai dirumah aku tercenung diam.
Aku telah sesat dari pencarianku, petualanganku seharusnya mencari mimpi kandas dan tergantikan menjadi impian uang dan harta benda.
Semua pembicaraan sebelumnya menamparku balik kepada tujuanku di awal mencari mimpi.
Aku kembali ke masa kecil ku masa lalu ku apa yang aku senangi, apa kelebihanku.
Membuat daftar yang panjang dan memilih satu persatu menjadikan daftar yang lebih kecil lagi.
Dan aku tersadar tidak mungkin semua bisa kucoba satu persatu.
Tapi selama perjalanan hidupku aku tahu apa yang menjadi titik kuatku, ujung tombak dari bakatku.
Dan akhirnya aku memutuskan satu bidang dan merumuskan dalam kalimat bagaimana aku bisa bahagia dalam mimpi itu.
Perasaan gembira memenuhiku dan semangat muncul secara berlebihan dan ajaib.
Di mataku tidak yang dapat menjadi halangan lagi, ini sudah harga mati.
Tapi pola pikir uang dan hartabenda telah bertahun - tahun mengikatku dan itu menjadi halangan.
Tidak itu saja mimpi yang aku temukan juga menjadi masalah bagiku.
Mimpiku begitu besar dan begitu hebat bagiku sehingga dapat memberikan dampak positive secara besar - besaran dan juga memberikan ketakutan yang lebih hebat lagi dari apa yang pernah aku alami selama ini.

Aku takut mengejar mimpi,
Aku takut gagal,
Aku takut karena mimpi ini adalah segalanya bagiku.

Saat ini aku berada di persimpangan jalan.
Aku tahu yang mana yang harus aku pilih.
Namun kakiku terikat masa lalu,
Dan pikiranku terikat oleh rasa takutku

Pada akhirnya aku menemukan mimpiku,
dan juga menemukan bayangan di balik mimpi
Tapi paling tidak akun menemukan mimpiku
Aku berjuang saat ini untuk lepas dan menggapainya

Bagaimana dengan mu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar