Senin, 02 Maret 2015

Aku Ceritakan Kepadamu Kisah Cinta Sedihku

Judul di atas balasan untuk giveaway 

 yang akan gua ikuti dari @aprieJ
Ini cerita sedih yang muncul mendadak yang gua tulis selama 30 menit.
Spontan!
jadi maaf kalau ada kurang pada penulisan dan pemilihan katanya.
twitter penulis : @AdrianPangestu
selamat menikmati. Semoga sesuai dengan selera anda yang membaca.

Tempurung
              Matahari turun untuk istirahat sinarnya berlahan – lahan turun meninggalkan potongan – potongan cahaya terpancar dari atas gunung, di pondokan aku duduk setiap harimenikmatinya dengan kopi radio kalo beruntung ada pisang goreng, entah sudah berapa lama ini menjadi pemandangan yang aku lihat. Sudah tidak ingat lagi kapan dimulainya, rasanya seumur hidupku akan melihat pemandangan yang sama entah sampai kapan badan ini hancur dan sakit.  
Aku bisa mengatakan itu karena aku seorang petani, membajak ladang hanya pekerjaan yang bisa aku lakukan setelahnya aku belajar hal – hal yang lainnya yang berhubungan dengan ladang. Aku mengerti hanya ini yang bisa dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan seperti aku. Turun dari bapak ke anak. Lahan yang semakin lama semakin kecil. Kantong yang semakin lama semakin miskin tidak sebanding dengan harga. 
Untuk bertahan kita harus mengambil hati bos besar di desa untuk membantu kita. Sayangnya beliau bukan orang yang murah hati. Ketika tidak ada untung yang bisa diandalkan hanya ingatan beliau tentang kita. Apakah kita baik atau tidak? Apakah kita bisa ditolong atau tidak? 
Kebetulan aku adalah salah satu orang favoritnya. Orang yang selalu datang di saat di butuhkan bahkan membiarkan bapak bekerja sendiri pun harus aku lakukan demi menjaga hubungan baik membantu bos besar agar bisnisnya dan hatinya bisa bertahan di desa ini. Aku tersenyum tentang apa saja yang sudah aku lakukan untuk bos besar.  
Dari menjadi teman baik anaknya, membantu bos membuat acara besar di desa untuk membuat warga lainnya menerima beliau, mencari batu akik spesial di hutan, sampai menolong bos yang dikejar kerbau, kalau tidak kutolong sudah habis dia diseruduk kerbau. Ingatan itu membuatku tersenyum sedikit.
                “Bang senyum – senyum sendiri saja nanti disangka gila loh.” 
Aku terkejut dan terbangun dari lamunanku melihat Nina sudah berdiri di depanku menghalangi sinar matahari senja yang sudah mulai redup. Alangkah eloknya pemandangan yang aku lihat, Paras cantik Nina tertutup sedikit bayangan dan hanya pinggirnya yang bercahaya menembus juntaian rambutnya yang terlepas dari ikatan di belakang kepalanya yang kecil. Tubuhnya yang kurus langsing tak bisa aku bilang ada laki – laki yang bisa menolak tubuh itu. Terkadang kalo sangat beruntung Nina akan datang mampir sebentar. Ini pemandangan lain favoritku, yang satu membuat ku tenang yang ini membuatku senang. 
              “Ah bisa aja dek. Kalo abang gila kasian Pak Bahur. Gak ada lagi orang andalannya di desa ini.”
                “Ah abang bisa aja. Kenapa sih senyum – senyum sendiri?”
                “Aku tersenyum liat kau yang manis dek.”
                “Ih.” Nina memukul manja lenganku.
            “Lah abang salah apa kok dipukul!” Aku bermain – main berpura – pura kaget dipukul Nina.
                “Nina kan baru datang abang senyumnya dari tadi.”
           “Ya abang hanya teringat tadi pas Pak Bahur lari – lari dikejar sama kerbau.”
Nina tertawa mendengar aku mengungkit hal itu lagi di desa ini hanya beberapa hal yang bisa ditertawakan salah satunya yah kejadian si bos dikejar kerbau.
Kita biasanya hanya berbicara untuk beberapa menit setelah itu Nina pulang karena hari sudah gelap. Matahari sudah mulai hanya terlihat ujungnya saja kalau sudah begini Nina pasti pamit pulang.
                “Abang Nina pulang dulu yah.”
Nina yang dari duduk bersimpuh sudah dalam posisi setengah berdiri bersandar berat pada kedua lututnya
Kali ini tidak ada jawaban “Iya hati – hati ya Nina.” “Makasih ya udah nemeni abang ngobrol Nina.” “Abang antar pulang yah Nina.” Aku sudah tak tahan aku membalasnya dengan sebuah pelukan yang kusambung dengan ciuman di bibir Nina aku bisa merasakan tubuh Nina menegang kaget karena kucium. Aku juga tidak mengerti tentang apa yang aku lakukan aku kaget bukan kepalang dengan tindakanku.
Masih dalam pelukanku Nina yang masih kaget sama kagetnya denganku terdiam sebentar bibirnya terbuka membentuk celah matanya terbelalak kaget. Aku ingin menciumnya lagi tapi kali ini bibirku kugunakan untuk hal lain aku mencoba untuk bicara.
                “Nina, abang sudah lama sayang sama adek. Mungkin abang bukan lelaki yang paling baik, mungkin kalau kamu menolak abang kamu masih bisa menemukan lelaki yang lebih baik lagi. Mungkin kalau kamu menerima abang kamu akan menderita dan hanya menemukan kesusahan. Hidup abang cuma di desa ini. Tidak mewah, tidak megah. Meskipun begitu abang mau dek Nina mempertimbangkan untuk hidup berdua dengan abang. Mau gak, dek Nina menikah dengan abang?”
Dengan suara mantap aku mengatakannya dengan lancar tidak terputus. Nina terdiam mendorongku pelan menjauh. Nina kembali terduduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Tangan mencengkram kain yang membalut kakinya dari pinggang kebawah. Aku ketakutan setengah mati dia akan menolakku.
Sejenak dia  memandangku dengan wajah ragu, takut, bimbang selama beberapa saat. Aku tidak bisa membaca apa  artinya tatapannya. Detik berikutnya Nina sudah meloncat turun dari saung memakai sandalnya dan buru – buru pergi.
Aku berteriak memanggil namanya  tapi Nina tidak berbalik sedikit pun mengacuhkan panggilanku kepadanya.
Aku tercenung beberapa saat melihat cahaya matahari senja hilang sekaligus dengan cintaku. Aku merasa hampa pada saat itu. Aku terdiam untuk saat yang lama sampai ternyata hari sudah gelap. Aku pulang berbesih diri  lalu istirahat seperti biasa.
Di dalam gelap malam aku terbaring di tempat tidur beranyam bambu dengan kain sebagai alas dan sebuah bantal kapuk yang sudah lama dan menghitam. Perlahan aku mulai merasa sakit. Rasanya menusuk dada aku merasa sesak tidak bisa bernapas, leherku tercekat tidak ada suara yang keluar. Air mata mulai mengalir dari pinggir mataku turun ketelinga. Aku menangis sendiri dalam gelap, menjerit sendiri tanpa suara, awalnya aku merasa sedih karena ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan aku menangis selama beberapa lama aku tidak tahu. Setelah berikutnya aku tenang lalu sekali lagi aku  merasakan lagi gelombang kesedihan yang sedikit berbeda dari sebelumnya aku takut kehilangan momen – momen menyenangkan setelah selesai bekerja di sore hari bersama Nina. Ini yang terakhir tidak ada lagi, Aku kembali merasakan air mataku kembali mengalir rasa sakit di dada di gantikan amarah karena ketakutan yang aku rasakan, aku tidak menjerit,  kali ini aku terisak seperti anak kecil.
 Ketika aku tersadar ternyata hari sudah pagi, aku harus bersiap – siap membantu bapak di ladang, aku terlelap kecapaian menangis. Hati ku risau, resah, gelisah  tidak pernah tenang mulai dari waktu aku bangun sampai pada saat aku bekerja. Aku ingin pikiran burukku hilang. Aku membohongi diri sendiri untuk mengusirnya. Nina pasti akan datang sore ini.
Sore hari pun datang disaat sudah waktunya selesai bekerja aku segera bergegas untuk duduk di saung seperti biasa, jantungku berdebar kencang harapanku tinggi melonjak ke angkasa berharap Nina akan datang menghampiriku seperti biasa. Tidak pernah aku berharap, takut, dan berekspetasi sekencang  ini. Ekstasi baru yang pertama kali aku rasakan seumur hidupku.
Aku duduk dengan tenang menatapi cahaya matahari turun perlahan ditelan bukit, aku terlihat tenang menatapinya setiap orang yang lewat menyapaku aku balas menyapanya hanya saja mataku selalu menatap matahari, aku terlihat tenang tapi di dalam aku gelisah, cemas, takut, berharap. Matahari sudah setengah tenggelam, harapanku masih melambung tinggi. Setiap detik aku melihat matahari turun dengan lambat di makan bukit aku semakin cemas, semakin pupus harapan, tanganku bergetar. Menit berikutnya matahari sudah tinggal seujung, tanganku saling bertautan, bergetar hebat, aku berdoa kepada Tuhan agar Dia sudi mengatur Nina bisa datang ketempat ini sekarang juga. Matahari sudah turun tenggelam dimakan bukit aku sekali lagi menangis, tersungkur meraung di lantai anyaman saung, menyesali perbuatanku pada momen ini satu hari yang lalu. Realita menghantamku kencang, Nina gak akan datang, lebih dari pada ditolak hubungan kita telah hancur hilang di hapus oleh bibir kita yang bersentuhan. Saat aku mengecupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar